Mahasiswa menyimak pemaparan materi dari pemateri yang merupakan praktisi media yang ada di Bengkulu.
JUBER NEWS - Di tengah derasnya arus informasi digital yang dipenuhi judul sensasional dan kabar serba cepat, mahasiswa jurnalistik diajak untuk kembali berpikir jernih dan kritis. Kegelisahan itu menjadi latar digelarnya Workshop Jurnalistik oleh Program Studi S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu, Sabtu (13/12/2025), di Taman Budaya Bengkulu.
Bertajuk “Cerdas Membaca dan Menulis Berita Di Era Informasi Digital”, Workshop Jurnalistik ini bertujuan sebagai upaya membekali calon jurnalis agar tetap “Kritis” dalam menghadapi bisingnya informasi digital, terutama dalam membedakan fakta, opini bias dan framing media, pemahaman penulisan Berita, etika jurnalisme, dan materi yang lainnya mengenai kejurnalistikan.
Kegiatan ini menghadirkan dua praktisi media, Iyud Dwi Mursito (Pemimpin Redaksi Bengkulu Network) dan Anom Prihantoro (Kepala Biro ANTARA Bengkulu), dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kampus-kampus di Bengkulu dan kalangan umum.
Iyud Dwi Mursito menegaskan bahwa ketelitian merupakan fondasi utama dalam kerja jurnalistik. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak tergesa-gesa menulis tanpa melalui proses verifikasi yang memadai.
Menurutnya, satu kesalahan informasi dapat berdampak panjang, tidak hanya merugikan publik tetapi juga menggerus kepercayaan terhadap media. Karena itu, ia menekankan pentingnya memastikan kejelasan sumber, keakuratan data, serta kelengkapan informasi sejak tahap awal peliputan.
Sementara itu, Anom Prihantoro, membedah persoalan Jurnalistik modern dengan bahasa lugas dan pengalaman lapangan. Ia menegaskan bahwa jurnalis hari ini bukan hanya penulis berita, tetapi penjaga logika publik.
Di tengah tekanan kecepatan, jurnalis dituntut tetap berimbang, memverifikasi data, dan tidak terjebak framing yang menyesatkan.
Workshop ini bukan sekadar soal menulis. Sejak awal, peserta diajak memahami realitas ekosistem informasi digital yang serba cepat namun rawan bias. Di sinilah literasi digital diuji.
Mahasiswa dilatih memilah mana fakta, mana opini, dan mana hoaks yang sengaja dikemas rapi agar tampak meyakinkan. Pesannya jelas: cepat itu penting, tapi akurat jauh lebih penting.
Peserta diajak mengenali bias media, mulai dari pemilihan narasumber, penempatan berita, hingga nada bahasa yang secara halus membentuk persepsi pembaca.
Dengan membandingkan satu peristiwa dari beberapa media, mahasiswa dilatih membaca di balik teks bukan sekadar membaca teks.
Tak berhenti di teori, Workshop ini juga mengajak peserta turun ke praktik. Melalui studi kasus, mahasiswa diminta menentukan angle berita, mengumpulkan data faktual, dan menyusun berita menggunakan rumus 5W+1H dengan struktur piramida terbalik. Pada tahap ini, berpikir kritis dan menulis jernih diuji bersamaan.
Workshop ditutup dengan sesi evaluasi karya. Tulisan peserta direview, dikritisi, dan diperbaiki bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menajamkan.
Karya terbaik akan dipublikasikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus portofolio awal mahasiswa di dunia jurnalistik.
Lewat kegiatan ini, Prodi S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu menegaskan satu hal penting: menjadi jurnalis bukan soal siapa paling cepat, tapi siapa paling bertanggung jawab.
Di tengah riuh informasi digital, berpikir kritis adalah skill wajib dan workshop ini menjadi salah satu ruang latihan untuk itu.
Reporter : Fainaya Fadillah
Editor : Riena Febriani Carollin
